Sifat-sifat dan Klasifikasi Batu Permata
Kerak bumi ini terdiri atas 25% silium (pasir batu-batuan)
yang disebut batu permata atau batu mulia yang 90% berasal dari campuran
silium. Apabila batu-batu mulia itu ditelaah berdasarkan ilmu kimia, orang akan
memaklumi bahwa batu-batu itu tidak berbeda dengan barang-barang tambang
(mineral) lainnya.
Batu permata adalah sebuah mineral, batu yang dibentuk dari
hasil proses geologi yang unsurnya terdiri atas satu atau beberapa komponen
kimia yang mempunyai harga jual tinggi. Batu permata diberi gelar batu mulia
karena keindahannya warna yang mempesona, padahal menurut penelitian ilmiah,
batu ini hanya menunjukkan sifat-sifat yang biasa saja, misalnya zat arang
(kooltof), thonaarde, dan sebagainya. Yang juga menjadi alasan batu ini disebut
sebagai batu mulia karena nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Batu permata seperti intan hanya terdiri atas satu unsur
saja yaitu unsur zat arang. Jenis-jenis batu mulia yang lain terdiri atas zat
pasir (silium) misalnya balur, amatis, kecubung, batu emas (opal), zamrud,
berjat (granat), biduri ringin (khrisolit), mirah cempaka (topaz), dan ratna
cempaka.
Kebanyakan campuran kimia dari zat-zat barang-barang tambang
mempunyai corak yang teratur dan bersamaan dalam bentuk kristal. Kadang-kadang
orang menemukan batu permata yang masih dalam keadaan kasar tetapi
gilang-gemilang, sehingga orang mula-mula menyangka bahwa batu itu telah
digosok, padahal memang demikian keadaannya secara alamiah.
Sifat struktur Batu Permata terdiri atas komposisi kimia,
struktur kristal, struktur optikal, berat jenis/densitas (spesific gravity) dan
keras batu (durability). Namun pada umumnya penggolongan batu permata
didasarkan atas keras batu dan berat jenis.
Seperti halnya unsur perhiasan emas putih, emas kuning,
perak, tembaga, besi dan perunggu yang memiliki unsur kimia yang berbeda serta
kepadatan yang berbeda, begitu pula batu permata juga memiliki unsur kimia dan
kepadatan unsur yang berbeda sehingga penggolongannya terdiri dari berbagai
jenis. Karena perbedaanya tersebut sehingga ada penggolongan batu yang mulia,
yang sedang dan yang tidak mulia serta berbeda dari segi harga maupun nilai
yang lainnya. Sampai saat ini penggolongan batu permata didasarkan atas nilai
keras batu (hardheid) dan berat jenisnya (scorrtelijik). Nilai keras batu
pertama kali dikemukakan oleh ahli pertambangan, Drich Mohs pada akhir abad
ke-18 dengan mengemukakan sistem untuk membagi nilai keras barang tambang
menjadi 10 macam niali keras batu dari 1 sampai 10. Sistem ini masih berlaku
sampai sekarang yang digunakan untuk menilai keaslian batu permata.
Secara khusus penggolongan batu permata pertama kali
dilakukan oleh K.E. Kinge dengan mengklasifikasikan menjadi lima kelas.
Pembagian tersebut adalah sebagai berikut.
Sifat-sifat dan Klasifikasi Batu Permata
Kerak bumi ini terdiri atas 25% silium (pasir batu-batuan)
yang disebut batu permata atau batu mulia yang 90% berasal dari campuran
silium. Apabila batu-batu mulia itu ditelaah berdasarkan ilmu kimia, orang akan
memaklumi bahwa batu-batu itu tidak berbeda dengan barang-barang tambang
(mineral) lainnya.
Batu permata adalah sebuah mineral, batu yang dibentuk dari
hasil proses geologi yang unsurnya terdiri atas satu atau beberapa komponen
kimia yang mempunyai harga jual tinggi. Batu permata diberi gelar batu mulia
karena keindahannya warna yang mempesona, padahal menurut penelitian ilmiah,
batu ini hanya menunjukkan sifat-sifat yang biasa saja, misalnya zat arang
(kooltof), thonaarde, dan sebagainya. Yang juga menjadi alasan batu ini disebut
sebagai batu mulia karena nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Batu permata seperti intan hanya terdiri atas satu unsur
saja yaitu unsur zat arang. Jenis-jenis batu mulia yang lain terdiri atas zat
pasir (silium) misalnya balur, amatis, kecubung, batu emas (opal), zamrud,
berjat (granat), biduri ringin (khrisolit), mirah cempaka (topaz), dan ratna
cempaka.
Kebanyakan campuran kimia dari zat-zat barang-barang tambang
mempunyai corak yang teratur dan bersamaan dalam bentuk kristal. Kadang-kadang
orang menemukan batu permata yang masih dalam keadaan kasar tetapi
gilang-gemilang, sehingga orang mula-mula menyangka bahwa batu itu telah
digosok, padahal memang demikian keadaannya secara alamiah.
Sifat struktur Batu Permata terdiri atas komposisi kimia,
struktur kristal, struktur optikal, berat jenis/densitas (spesific gravity) dan
keras batu (durability). Namun pada umumnya penggolongan batu permata
didasarkan atas keras batu dan berat jenis.
Seperti halnya unsur perhiasan emas putih, emas kuning,
perak, tembaga, besi dan perunggu yang memiliki unsur kimia yang berbeda serta
kepadatan yang berbeda, begitu pula batu permata juga memiliki unsur kimia dan
kepadatan unsur yang berbeda sehingga penggolongannya terdiri dari berbagai
jenis. Karena perbedaanya tersebut sehingga ada penggolongan batu yang mulia,
yang sedang dan yang tidak mulia serta berbeda dari segi harga maupun nilai
yang lainnya. Sampai saat ini penggolongan batu permata didasarkan atas nilai
keras batu (hardheid) dan berat jenisnya (scorrtelijik). Nilai keras batu
pertama kali dikemukakan oleh ahli pertambangan, Drich Mohs pada akhir abad
ke-18 dengan mengemukakan sistem untuk membagi nilai keras barang tambang
menjadi 10 macam niali keras batu dari 1 sampai 10. Sistem ini masih berlaku
sampai sekarang yang digunakan untuk menilai keaslian batu permata.
Secara khusus penggolongan batu permata pertama kali
dilakukan oleh K.E. Kinge dengan mengklasifikasikan menjadi lima kelas.
Pembagian tersebut adalah sebagai berikut.
Sifat-sifat dan Klasifikasi Batu Permata
Kerak bumi ini terdiri atas 25% silium (pasir batu-batuan)
yang disebut batu permata atau batu mulia yang 90% berasal dari campuran
silium. Apabila batu-batu mulia itu ditelaah berdasarkan ilmu kimia, orang akan
memaklumi bahwa batu-batu itu tidak berbeda dengan barang-barang tambang
(mineral) lainnya.
Batu permata adalah sebuah mineral, batu yang dibentuk dari
hasil proses geologi yang unsurnya terdiri atas satu atau beberapa komponen
kimia yang mempunyai harga jual tinggi. Batu permata diberi gelar batu mulia
karena keindahannya warna yang mempesona, padahal menurut penelitian ilmiah,
batu ini hanya menunjukkan sifat-sifat yang biasa saja, misalnya zat arang
(kooltof), thonaarde, dan sebagainya. Yang juga menjadi alasan batu ini disebut
sebagai batu mulia karena nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Batu permata seperti intan hanya terdiri atas satu unsur
saja yaitu unsur zat arang. Jenis-jenis batu mulia yang lain terdiri atas zat
pasir (silium) misalnya balur, amatis, kecubung, batu emas (opal), zamrud,
berjat (granat), biduri ringin (khrisolit), mirah cempaka (topaz), dan ratna
cempaka.
Kebanyakan campuran kimia dari zat-zat barang-barang tambang
mempunyai corak yang teratur dan bersamaan dalam bentuk kristal. Kadang-kadang
orang menemukan batu permata yang masih dalam keadaan kasar tetapi
gilang-gemilang, sehingga orang mula-mula menyangka bahwa batu itu telah
digosok, padahal memang demikian keadaannya secara alamiah.
Sifat struktur Batu Permata terdiri atas komposisi kimia,
struktur kristal, struktur optikal, berat jenis/densitas (spesific gravity) dan
keras batu (durability). Namun pada umumnya penggolongan batu permata
didasarkan atas keras batu dan berat jenis.
Seperti halnya unsur perhiasan emas putih, emas kuning,
perak, tembaga, besi dan perunggu yang memiliki unsur kimia yang berbeda serta
kepadatan yang berbeda, begitu pula batu permata juga memiliki unsur kimia dan
kepadatan unsur yang berbeda sehingga penggolongannya terdiri dari berbagai
jenis. Karena perbedaanya tersebut sehingga ada penggolongan batu yang mulia,
yang sedang dan yang tidak mulia serta berbeda dari segi harga maupun nilai
yang lainnya. Sampai saat ini penggolongan batu permata didasarkan atas nilai
keras batu (hardheid) dan berat jenisnya (scorrtelijik). Nilai keras batu
pertama kali dikemukakan oleh ahli pertambangan, Drich Mohs pada akhir abad
ke-18 dengan mengemukakan sistem untuk membagi nilai keras barang tambang
menjadi 10 macam niali keras batu dari 1 sampai 10. Sistem ini masih berlaku
sampai sekarang yang digunakan untuk menilai keaslian batu permata.